DI BALIK MAKIN BERATNYA PEREKONOMIAN RAKYAT

Artikel, Ekonomi59 Dilihat

tintaindependen.com, HARUS kita akui, bahwa himpitan ekonomi, terutama untuk rakyat kecil atau rakyat kelas menengah ke bawah di negeri ini, makin hari semenjak beberapa waktu belakangan ini terasa semakin berat.

Setidaknya, ini dapat dirasakan setelah semakin naiknya harga berbagai jenis Sembilan Bahan Kebutuhan Pokok(Sembako), yang diawali oleh naiknya harga plastik beberapa waktu baru lalu.

Dengan naiknya harga plastik secara mengejutkan beberapa waktu lalu, melambung lah harga Sembako, seperti beras, minyak goreng dan yang lainnya.

Rakyat kecil bagaikan jatuh tertimpa tangga pula, ketika kenaikan harga kebutuhan pokok sehari-hari ini diiringi sekaligus oleh ancaman PHK(Pemutusan Hubungan Kerja) di berbagai perusahaan swasta seperti pabrik dan perusahaan lainnya. Di sisi lain, lapangan kerja baru bagaikan tersungkup awan hitam alias tidak ada sama sekali. Alih-alih lapangan kerja baru, lapangan kerja lama malah yang terancam tutup karena pihak perusahaan tidak mampu lagi menutupi biaya operasional perusahaannya.

Sekaitan dengan ini, muncul pertanyaan di tengah publik, kenapa ini sampai terjadi?

Penyebab utama yang paling mudah dijadikan jawaban oleh pemerintah adalah pengaruh ekonomi global yang terjadi akibat perang di Timur Tengah, antara Israel, Amerika dengan Iran. Akibat perang ini harga minyak melambung. Apalagi dengan ditutupnya Selat Hormuz oleh Iran. Sebagaimana kita ketahui, Selat Hormuz merupakan urat nadi perlintasan minyak dunia dari Timur Tengah ke seluruh dunia. Tidak kurang dari 20% peredaran minyak dunia dari Timur Tengah melintasi Selat Hormuz setiap waktu. Ketika Selat Hormuz ditutup Iran, harga minyak dunia sudah barang tentu melambung. Iran malah memperkirakan, jika dia tetap menutup Selat Hormuz beberapa bulan ke depan, harga minyak dunia bisa mencapai 200 $USD per barel. Menakutkan sekali. Sebab kenaikan harga minyak dunia akan mengguncang perekonomian dunia, tanpa kecuali Indonesia.

Namun di sisi lain, yang cukup mencemaskan bagi kita, keterpurukan ekonomi kita bukan saja hanya dirasakan rakyat semenjak perang Timur Tengah berlangsung. Jauh sebelum pecahnya perang Timteng, ekonomi kita sudah terasa memburuk juga.

Keterpurukan nilai mata uang kita dari dolar Amerika, ketidakstabilan harga bahan kebutuhan pokok kita, telah dirasakan rakyat kita sejak lama. Bahkan nilai rupiah yang sekarang telah menembus angka 17.500 per $USD, jika tidak keliru, rupiah menjadi nilai mata uang terendah di ASEAN saat ini.

Dengan ini, rakyat tentu tak henti-hentinya berharap kepada pemerintah yang sudah mereka gaji, haruslah mampu secepatnya memulihkan perekonomian negara kita. Rakyat tidak mungkin dibiarkan pemerintah berkelahi dengan gelang-gelang karena tekanan rasa lapar. Pemerintah harus menyadari bahwa pertumbuhan ekonomi yang berada di angka 5,61% sekarang tidak akan ada artinya sama sekali, kalau ekonomi rakyat tetap juga susah.

Oleh: Bustami Narda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *