Kabar Duka dari Dunia Pendidikan: Tunjangan Dipangkas, Guru di Kabupaten Tangerang Menjerit

tintaindependen.com Tangerang, 16, Juni, 2026
Nasib pilu harus dialami oleh para “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” di wilayah Kabupaten Tangerang. Di tengah beban kerja yang semakin berat, para guru PPPK, PNS maupun tenaga pendidik lainnya justru harus menerima kenyataan pahit setelah tunjangan kesejahteraan mereka diduga dipotong sepihak oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang.

Kebijakan pemotongan ini memicu gelombang kesedihan dan kekecewaan mendalam bagi ribuan guru yang menggantungkan hidupnya pada insentif tersebut. Berdasarkan informasi yang dihimpun, pemotongan jumlah tunjangan ini bervariasi, namun cukup signifikan untuk mengganggu kebutuhan dapur para guru.

Salah seorang guru PPPK di sebuah SD Negeri di wilayah Jayanti, yang enggan disebutkan namanya, mengaku sangat terpukul. Ia menyebut bahwa Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) yang selama ini menjadi “napas” tambahan untuk memenuhi kebutuhan pokok, kini menyusut tanpa alasan yang jelas.

“Kami kaget saat mengecek rekening. Jumlahnya tidak seperti biasa, ada pemotongan. Di tengah harga kebutuhan pokok yang melonjak, potongan ini sangat terasa bagi kami. Kami hanya bisa mengelus dada, sedih, dan bingung harus mengadu ke mana lagi,” ujarnya dengan nada bergetar, Selasa (16/6).

Kondisi ini menyulut reaksi dari berbagai kalangan pemerhati pendidikan. Mereka menilai bahwa guru seharusnya mendapatkan apresiasi lebih, bukan justru pengurangan hak. Terlebih lagi, Kabupaten Tangerang dikenal sebagai wilayah dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang cukup besar.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang belum memberikan keterangan resmi terkait alasan di balik kebijakan pemotongan tersebut. Apakah hal ini disebabkan oleh kendala anggaran, perubahan regulasi, atau kendala administratif lainnya, masih menjadi tanda tanya besar.

Para guru berharap Pemerintah Kabupaten Tangerang, khususnya Bupati dan Kepala Dinas Pendidikan, segera memberikan klarifikasi dan solusi nyata. Mereka menuntut agar tunjangan tersebut dikembalikan ke jumlah semula demi menjaga moralitas dan semangat juang para pendidik dalam mencerdaskan anak bangsa.

“Kami tidak menuntut kemewahan, kami hanya ingin hak kami dikembalikan. Tolong lihat keringat kami di kelas,” pungkas guru tersebut.

(Mulyadi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *