KENAPA HANYA 20% PELAJAR DI BANTEN YANG PUNYA AKSES KE LAPTOP?

Artikel, Opini97 Dilihat

Oleh: Bustami Narda

KITA dikejutkan oleh informasi yang menunjukkan hanya 20% pelajar di Provinsi Banten yang punya akses dengan laptop.

Sekaitan dengan ini, muncul pertanyaan, kenapa provinsi yang merupakan pemekaran dari DKI Jakarta ini sampai sebegitu memprihatinkan? Kenapa dikatakan memprihatinkan? Karena kondisi ini mencerminkan ketertinggalan pelajar di Provinsi Banten dalam bidang internet atau dunia IT.
Padahal kita tahu, 99,5% generatsi muda di Banten sudah berpendidikan atau sudah tidak lagi buta hurup.

Menilik kepada data pelajar di Provinsi Banten sekarang yang mencapai 2.331.276 orang, jika sekitar 20% yang tidak punya akses dengan laptop, berarti sebanyak 1.865.021 orang yang tidak punya akses dengan laptop. Sungguh sebuah angka yang amat mengagetkan.

Bayangkan, di Provinsi Banten yang merupakan Provinsi tetangga dekatnya Ibuk Kota Negara RI, DKI Jakarta, ternyata demikian besar jumlah pelajarnya yang terdiri dari murid SD, siswa/siswi SMP atau yang sederajat dan siswa/siswi SMA, SMK atau yang sederajat, yang tidak punya akses dengan laptop.

Kalau di Provinsi Banten saja sudah begin parah kondisinya, bagaimana lagi untuk daerah-daerah lain yang jauh dari Jakarta di seluruh nusantara ini.

Bagaimana mereka akan mampu mengejar kecerdasan generasi muda seangkatan dengan mereka di belahan dunia lain yang sudah jauh lebih maju dibandingkan Indonesia, jika dalam kenyataannya generasi muda harapan bangsa dan negara kita seperti ini.

Pertanyaan selanjutnya yang mungkin bisa muncul dari publik, apakah ini suatu bukit bahwa selama ini negeri ini sudah mengabaikan dunia pendidikan?
Namun beranjak dari sini, ada beberapa hal yang mungkin patut menjadi catatan bagi Provinsi Banten dan Indonesia.

Untuk Provinsi Banten, kondisi ini menjadikan Gubernur Banten sekarang, Andra Soni, terpaksa bekerja keras untuk memacu ketertinggalan Banten dari sisi pendidikan, terutama yang berkaitan dengan dunia IT dan peningkatan mutu pendidikan. Sebab kondisi 20% pelajar di Banten tak punya akses dengan laptop ini tentu telah berlangsung sejak sebelum Andra Soni memimpin Banten. Jauh sebelum Andra Soni dilantik jadi Gubernur Banten, kita yakin angka 20% ini sudah ada juga.

Sedangkan untuk Indonesia secara keseluruhan, fenomena yang terjadi di Banten ini perlu menjadi bahan evaluasi bagi Pemerintahan Prabowo sekarang, khususnya untuk dunia pendidikan. Sangat berbahaya, apabila di suatu negara, pendidikannya terabaikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *