MENYAMBUT LEBARAN HAJI DENGAN PRIHATIN

Artikel, Berita141 Dilihat

Oleh: Bustami Narda

Tinggal beberapa hari lagi, tepatnya hari Rabu, 27 Mei nanti, kita Ummat Islam akan merayakan lebaran haji, Hari Raya Idul Adha 1447 H.

Ada yang amat berbeda suasana kita di negeri ini menyambut hari raya qurban tahun ini jika kita bandingkan dengan hari raya qurban sebelum-sebelumnya.
Pada saat-saat kita akan merayakan hari raya qurban tahun ini, kita dihantui oleh rasa prihatin karena ekonomi negara kita yang makin merisaukan hati dari hari ke hari.

Kerisauan hati kita ini diakibatkan oleh semakin melonjaknya harga-harga kebutuhan pokok, seperti beras, minyak goreng, gula dan lain sebagainya.
Kenaikan harga kebutuhan pokok ini didahului oleh naiknya harga plastik beberapa waktu baru lalu. Kita tahu, kenaikan harga plastik itu dipicu oleh perang Amerika-Israel dengan Iran.
Namun yang amat memprihatinkan lagi, kenaikan harga-harga kebutuhan pokok ini di dipicu pula oleh jatuhnya nilai rupiah ke titik terendah yang tidak pernah dialami negeri ini selama Indonesia merdeka. Bayangkan, nilai rupiah per dolar Amerika sampai mencapai di atas angka Rp 17.750 per dolar Amerika. Benar-benar merisaukan dan mengkhawatirkan.

Sekaitan dengan ini, ketika kita sekarang akan menyambut Hari Raya Idul Adha 1447 H, kita benar-benar dihadapkan kepada situasi ekonomi yang amat memprihatinkan.

Kita tentu berharap kepada Pemerintah RI agar segera bisa memulihkan perekonomian ini.

Pemerintah tidak bisa hanya beralasan ini dan itu terhadap situasi ekonomi sekarang. Pemerintah tidak boleh mencari kambing hitam sensasi penyebab terjadinya situasi ekonomi saat ini.

Dan momentum lebaran haji tahun ini harus menjadi titik tumpu bagi pemerintah untuk kembali mengangkat ekonomi.

Sebab apabila pemerintah tidak mampu segera memulihkan ekonomi yang tengah terpuruk ini, rentetannya nanti bisa panjang. Di antara rentetannya, bisa memicu krisis kepercayaan dan krisis multidimensi.

Apabila datang krisis kepercayaan dan berlanjut pada krisis multi deminsi, bisa jadi kita akan membayar situasi ini dengan harga yang amat mahal nanti. Kita tentu masih ingat dengan peristiwa Reformasi 1998. Kita tentu tidak ingin itu kembali terjadi dalam bentuk Reformasi jilid 2.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *