tintaindependen.com JAKARTA — Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Miftachul Akhyar, menyampaikan pesan mendalam mengenai kehidupan umat manusia pada masa Yaumul Harj—sebuah zaman yang dipenuhi kekacauan, ketidakpastian, serta keadaan ketika kebenaran dan kebatilan semakin sulit dibedakan.
Pada masa seperti ini, manusia menghadapi ujian yang tidak hanya datang dalam bentuk kesulitan hidup, tetapi juga melalui derasnya informasi, pertentangan pendapat, kepentingan yang saling berhadapan, dan kecenderungan sebagian orang mendahulukan hawa nafsu daripada kebenaran.
“Berhati-hatilah di akhir zaman. Zaman ketika manusia lebih mendahulukan hawa nafsu daripada kebenaran dan banyak orang menggunakan topeng,” demikian inti pesan yang disampaikan KH. Miftachul Akhyar kepada umat.
Peringatan tersebut menjadi semakin relevan ketika masyarakat hidup di tengah perkembangan teknologi komunikasi dan media sosial. Setiap orang kini dapat menerima, mengolah, dan menyebarkan informasi dalam hitungan detik.
Media sosial telah memberikan manfaat besar sebagai sarana silaturahmi, pendidikan, dakwah, pengembangan usaha, dan penyebaran berbagai pesan kebaikan. Namun, besarnya manfaat tersebut harus disertai kebijaksanaan dan tanggung jawab dari setiap penggunanya.
Media sosial pada dasarnya merupakan sarana. Baik atau buruknya sangat bergantung pada niat, akhlak, dan cara manusia menggunakannya.
Ketika Nafsu Menutupi Kebenaran
Salah satu ujian terbesar pada masa Yaumul Harj adalah ketika hawa nafsu mulai menguasai cara seseorang melihat dan menilai suatu persoalan.
Kebenaran tidak lagi dicari untuk menemukan keadilan, tetapi dipilih berdasarkan kepentingan. Informasi yang sesuai dengan keinginan sendiri segera dipercaya dan disebarkan, sedangkan penjelasan yang berbeda langsung ditolak tanpa diperiksa terlebih dahulu.
Dalam keadaan seperti itu, seseorang dapat terlihat sedang memperjuangkan kebenaran, padahal sebenarnya sedang membela kepentingan dan memuaskan hawa nafsunya. Kebencian dibungkus sebagai kritik, penghinaan disampaikan atas nama kebebasan berbicara, dan fitnah disamarkan seolah-olah sebagai bentuk kepedulian.
Inilah gambaran manusia yang menggunakan “topeng”: penampilan luarnya terlihat baik, tetapi perkataan dan tindakannya justru dapat melukai, memecah belah, serta merusak kehormatan orang lain.
Karena itu, umat diminta tidak mudah menilai seseorang hanya berdasarkan narasi yang beredar, potongan video, judul berita, ataupun informasi yang belum diketahui konteksnya secara utuh.
Umat Nabi Muhammad Dipercaya Menghadapinya
Hidup pada masa Yaumul Harj bukan berarti umat harus kehilangan harapan. Sebaliknya, kesempatan hidup pada zaman yang penuh ujian ini merupakan sebuah kepercayaan sekaligus tanggung jawab besar.
Umat Nabi Muhammad SAW dipercaya mampu menghadapi tantangan zaman dengan iman, ilmu, kesabaran, kejernihan hati, dan kebijaksanaan.
Allah SWT tidak menempatkan seseorang pada suatu zaman tanpa memberikan kemampuan untuk menjalaninya. Semakin berat ujian yang dihadapi, semakin besar pula kebutuhan manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah, memperkuat ilmu, menjaga akhlak, dan mempererat persaudaraan.
Orang yang bijaksana tidak akan mudah terseret oleh keadaan. Ia tidak tergesa-gesa mempercayai kabar, tidak mudah menghakimi, dan tidak menjadikan prasangka sebagai dasar dalam bertindak.
Kebijaksanaan membuat seseorang mampu berdiri di tengah perbedaan tanpa kehilangan akhlak. Ia tetap dapat menyampaikan kritik dan pendapat, tetapi melakukannya dengan fakta, kesantunan, serta rasa tanggung jawab.
Bijaksana dalam Bermedia Sosial
Pesan KH. Miftachul Akhyar juga menjadi pengingat mengenai pentingnya kebijaksanaan dalam menggunakan media sosial.
Bijaksana bermedia sosial bukan berarti berhenti berbicara atau tidak boleh menyampaikan kritik. Kebijaksanaan berarti mampu mempertimbangkan kebenaran, manfaat, cara penyampaian, serta akibat dari setiap informasi yang ditulis dan dibagikan.
Umat perlu membiasakan tabayun atau memeriksa kebenaran setiap kabar sebelum memberikan tanggapan. Tidak semua informasi harus segera dipercaya. Tidak semua persoalan harus dikomentari. Tidak pula setiap kabar yang diterima harus langsung dibagikan.
Terkadang, menahan diri hingga suatu persoalan menjadi jelas merupakan bentuk kecerdasan, kematangan akhlak, sekaligus ibadah.
Jari yang menulis di media sosial memiliki tanggung jawab seperti lisan yang berbicara. Satu unggahan dapat memberikan ilmu, harapan, dan ketenangan kepada banyak orang. Namun, satu unggahan yang dibuat tanpa pertimbangan juga dapat melukai dan merusak kehormatan orang lain.
Karena itu, media sosial seharusnya dijadikan ladang kebaikan. Melalui sarana tersebut, umat dapat menyebarkan ilmu, memperkuat persaudaraan, membantu sesama, dan menghadirkan kesejukan di tengah masyarakat.
Yang Bijaksana Akan Selamat dan Bermartabat
KH. Miftachul Akhyar mengingatkan bahwa orang yang mampu menghadapi ujian zaman dengan kebijaksanaan akan memperoleh keselamatan dan tetap terjaga martabatnya.
Sebaliknya, orang yang dikuasai hawa nafsu akan terus mencari kesalahan, menyebarkan tuduhan, dan memproduksi fitnah. Perbuatan tersebut bukan hanya merusak hubungan antar manusia, tetapi juga dapat menggerus pahala amal ibadah yang telah dikumpulkan.
Seseorang mungkin rajin melaksanakan salat, puasa, sedekah, dan berbagai amal kebaikan. Namun, pahala itu dapat berkurang akibat lisan yang menyakiti atau tulisan yang merusak kehormatan orang lain.
Fitnah yang disebarkan melalui ruang digital bahkan dapat terus dibaca, dipercaya, dan diteruskan. Meskipun orang yang pertama kali mengunggahnya telah berhenti atau melupakannya, dampak buruk dari unggahan tersebut mungkin masih terus berjalan.
Fitnah seperti itu dapat menjadi “dosa jariyah”—dosa yang terus mengalir selama kebohongan tersebut masih dipercaya, disebarkan, dan menimbulkan kerugian bagi orang lain.
Jejak Digital Akan Dipertanggungjawabkan
Setiap manusia kelak akan menghadapi Yaumul Hisab, hari ketika seluruh perkataan dan perbuatan diperhitungkan di hadapan Allah SWT.
Jejak digital mungkin dapat dihapus dari layar, tetapi tidak terhapus dari catatan amal. Seseorang dapat bersembunyi di balik akun tanpa nama, tetapi tidak ada satu pun perbuatan yang tersembunyi dari pengetahuan Allah SWT.
Sebelum mengunggah atau membagikan sesuatu, setiap orang patut bertanya kepada dirinya sendiri: Apakah informasi ini benar? Apakah membawa manfaat? Apakah disampaikan dengan cara yang baik? Apakah dapat merusak kehormatan orang lain? Dan apakah kita siap mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah SWT?
Pesan Rais Aam PBNU tersebut menjadi pengingat bahwa ujian Yaumul Harj tidak cukup dihadapi dengan kecerdasan. Umat juga membutuhkan kematangan hati, kekuatan iman, keluasan ilmu, dan kemuliaan akhlak.
Di tengah derasnya informasi, kejernihan hati menjadi benteng. Ilmu menjadi penerang, tabayun menjadi pedoman, dan kebijaksanaan menjadi jalan menuju keselamatan.
Pada masa Yaumul Harj, orang yang paling keras berbicara belum tentu berada dalam kebenaran. Namun, orang yang mampu mengendalikan hawa nafsu, menjaga kehormatan sesama, dan tetap bijaksana akan selamat serta bermartabat.
Jadikan media sosial sebagai tempat menanam amal, bukan mewariskan dosa. Sebab, setiap kata yang ditulis dan setiap informasi yang disebarkan akan dimintai pertanggungjawaban pada Yaumul Hisab.













