MEMPERTANYAKAN MENTAN AMRAN SIAP BIAYAI 500 ROMBONGAN FERI KE SUMSEL

Artikel, Berita, Ekonomi133 Dilihat

tintaindependen.com Mengelitik, ketika Menteri Pertanian Amran Suleman siap membiayai dengan uang pribadinya keberangkatan 500 orang rombongan pakar dan pengamat Hukum Tata Negara Feri Amsari menyaksikan peresmian cetak sawah baru di Sumatera Selatan.
Ini adalah untuk menjawab kritikan Feri Amsari dalam suatu acara diskusi publik di salah satu stasiun televisi swasta baru lalu.

Pada kesempatan diskusi itu Feri membantah klaim pemerintah yang menyebutkan Indonesia sudah swasembada pangan. Pada intinya Feri mempertanyakan data luas sawah yang ada selama ini dikaitkan dengan klaim swasemba pangan oleh pemerintah.

Menurut Feri, kalau swasembada pangan tidak hanya bisa diukur dari satu jenis pangan saja, tetapi tentu harus diukur dari seluruh jenis pangan. Apakah sekarang Indonesia benar-benar telah swasembada pangan? Menilik kepada data yang ada, Feri mengatakan kita belum lagi swasembada pangan. Ditegaskan Feri lagi, bahwa swasembada beras atau swasembada jagung belum bisa dikatakan swasembada pangan. Kalau swasembada pangan, berarti sudah swasembada untuk seluruh jenis pangan. Perdebatan ini pulalah yang berujung pada dilaporkannya Feri ke Polri.

Beranjak dari sini, terkait dengan kesiapan Mentan Amran membiayai 500 orang rombongan Feri melihat peresmian cetak sawah di Sumsel itu, rasa-rasanya ini belumlah bisa menjawab yang dipertanyakan Feri terkait klaim pemerintah bahwa sekarang Indonesia sudah swasembada pangan. Sebab, kalau cetak sawah baru yang akan diperlihatkan kepada rombongan Feri ini, belumlah bisa itu di jadikan bukti Indonesia sudah swasembada pangan.

Yang namanya cetak sawah baru, sudah barang tentu belum lagi menghasilkan beras. Masih banyak proses lagi baru menghasilkan beras. Kecuali kalau Mentan Amran membawa Feri dan rombongannya menyaksikan timbunan hasil panen padi semenjak beberapa tahun belakangan ini. Itupun baru menjawab satu jenis swasembada beras. Dan ini belum bisa lagi dikatakan swasembada pangan.
Lagi pula, kedatangan rombongan Feri yang dia biayai dengan uang pribadinya itu, hanya akan memunculkan polemik baru bagi Mentan Amran.

Orang-orang kritis seperti Feri ini tidak akan pernah silau dan melunak mengagumi Mentan Amran karena Amran banyak uang sehingga bisa membiayai keberangkatan rombongannya 500 orang.

Sebaliknya, malah mereka nanti hanya akan mempertanyakan, dari mana Amran Suleman mendapatkan uang untuk membiayai perjalanan mereka ini.
Kalau Amran mendapatkan uang itu selama jadi Menteri, Feri dkk akan mempertanyakan, apakah ini tidak uang korupsi? Kalau Amran mengatalan uang ini dia dapatkan jauh sebelum menjadi Menteri, mereka akan mempertanyakan lagi, apakah uang ini dia dapatkan secara legal atau illegal? Kalau illegal, apakah dia dapatkan dari tambang illegal, dari lahan sawit illegal atau dari usaha ilegal lainnya? Akan menjadi semakin rumor dan panjang ceritanya.

Karena itu, sebaiknya Mentan Amran Suleman terima saja kritikan masyarakat dari manapun datangnya, dengan lapang dada. Anggap saja kritikan itu sebagai bentuk kepedulian masyarakat kepada Pemerintahan Prabowo sekarang dan khususnya kepada Kepemimpinan Amran di Kementerian Petanian.
Selaku pejabat negara, Amran harusnya telah dari awal-awal jadi Menteri Pertanian menyediakan mentalnya untuk dikritik rakyat.

Apabila kepemimpinan Amran tidak bersedia dikritik, pilihan yang harus dia tempuh tentu mundur dari pejabat negara.

Kita tentu menyadari pula, orang sekaya Amran Suleman ini wajar saja merasa canggung dikritik. Tetapi kalau menjadi pejabat negara, ukurannya bukan lagi uang, tetapi adalah kelapangan dadanya menjadi orang gajian rakyat yang harus melayani rakyat. Sebagai pelayan rakyat, wajar pula rakyat mengkritik pelayannya.

Kita yakin jika diukur dengan uang, tidak ada apa-apanya pendapatan Amran Suleman menjadi Menteri yang mungkin hanya ratusan juta per bulan seluruhnya, jika dibandingkan dengan pendapatannya jadi pengusaha yang mungkin ratusan Miliar atau bisa triliunan per bulan.

Kini tentu terpulang pada Amran, apakah akan tetap jadi pejabat negara yang harus bersedia dikritik atau kembali jadi pengusaha yang bisa berbuat sekehendak hati tanpa ada yang berani mengkritiknya.

Oleh: Bustami Narda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *